Rekomendasi Merayakan Pesta – Acara di acara di Jakarta tentu sangat jamur, lebih banyak hari akan meningkat. Ini juga disebabkan oleh jumlah perusahaan startup di kota ini semakin. Tidak perlu terbang ke sana, di Jakarta, sekarang ada peristiwa yang mengadopsi arsitektur Timur Tengah dengan tepat Maroko.

Bangunan ini disebut rumah Maroko, karena sesuai dengan namanya, bangunan ini sebenarnya adalah rumah dalam perban gaya Maroko yang eksotis menyajikan semua kemewahannya. Satu-satunya hal adalah bahwa rumah Maroko ini disewa untuk umum. Acara ini dapat digunakan untuk berbagai acara, seperti pernikahan, konferensi pers ke acara perusahaan. Ingin tahu? Mari kita mulai, kita berdiskusi.

Ketika dia sering menghadapi pertanyaan “kapan pernikahan?”, Kepala itu terasa penuh menunggu dan kebingungan. Segera setelah saatnya tiba, dampak antara keinginan dan kapasitas keuangan menyebabkan otak terus berputar karena rasa menyatukan mimpi dan realisasi dari hari istimewa ini. Namun, apakah Anda tahu jika anggaran Rp 50 juta sudah cukup untuk mendapatkan pernikahan yang layak?

Rumah Maroko | Rekomendasi Merayakan Pesta

Seperti disebutkan di atas, House of Maroko dirancang dengan interior dan dihiasi dengan arsitektur Timur Tengah. Ada sebuah ruangan yang disebut Casablanca Room yang didominasi dengan warna-warna pastel. Di dinding ruangan dan pintu dihiasi dengan ukiran. Ada juga ruang biliar Riyadh, yang merupakan halaman (ruang terbuka di pusat gedung) dengan kolam dengan luas 17 x 7 meter dan dilengkapi dengan sauna yang menggunakan keramik buatan, air mancur dan jacuzzi.

Riyadh Pool hampir mirip dengan halaman di Barat, yang merupakan halaman terbuka di rumah persegi panjang dengan sumber di tengah. Kamar ini dapat digunakan sebagai tempat untuk menghibur tamu, tempat melakukan  cara daftar sbobet online pertemuan dan menenangkan penghuni rumah. Anda juga dapat mengadakan pesta di taman di tempat ini.

Lia Ng, pemilik organizer pernikahan di Jakarta, mengatakan nominalnya sudah cukup. Sayangnya, apa yang sering menjadi masalah adalah pemahaman bahwa pernikahan harus dirayakan dalam kemewahan sehingga dapat mengesankan semua orang yang menikmatinya, terutama bahwa perayaan ini hanya dilakukan sekali dalam hidup. Belum lagi jika orang tua memiliki keinginan yang juga ingin “ditransmisikan” melalui pernikahan anak mereka.